Bersajak Saja Tak Cukup Mendeskripsikan Tentangmu

Paragraf Pertama

Pernahkah kalian merasakan cinta, merasakan rindu, merasakan kehilangan atau bahkan semua melebur menjadi kesatuan rasa merindu diantara duka kehilangan? Seyogyanya yang dirasakan kaula muda ketika hati mereka sedang dirundung kesedihan. Terkadang begitulah hati, tak pasti kearah mana ia merasa, melenceng tak beraturan selayaknya debu dihempaskan angin tatkala gerimis menghujam. Siapa yang tak pernah merasakan semua rasa diatas, pasti semua makhluk yang berakal pernah mengalami.

Paragraf Kedua

Tetap bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan hingga saat ini. Tuhan selalu tau mana yang terbaik untuk kita, bukan sebaliknya. Melawan Kodrat Tuhan adalah suatu dosa sangat besar, kita sebagai manusia ciptaan Tuhan hanya menjalankan apa yang diperintahkan serta meninggalkan apa yang dilarang Tuhan. Bukan kah begitu kewajiban kita.

Paragraf Ketiga

Berusaha menguatkan diri, menulis sedikit mendeskripsikan tentangmu, banyak hal yang belum sempat tersampaikan saat itu. Diri ini terlalu banyak berandai-andai entah sedalam apa tenggelam terlalu dalam.  Benar saja waktu memang tak bisa ditarik mundur. Bukanlah sebuah perselisihan diantara kita, itu hanya saja perbedaan pendapat. Diri ini mungkin terlalu menyayangimu sehingga meluapkan rasa terlalu berlebihan, sehingga apa yang harusnya tereja dengan benar menjadi tanggapan kesalahpahaman. Bukan berarti diri ini terlalu ego dengan keinginan, namun mungkin salah penyampaian.


Paragraf Keempat

Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, sampai lupa dengan kesehatanmu. Bagaiamana caramu melakukan itu, terpendam sendiri, tak seorangpun tau apa yang sedang kamu rasakan, begitu hebat dan kuatnya, diri ini ada dimana sebenarnya. Ada dimana masa tubuh harus beristirahat dari urat-urat yang tegang. Namun apa yang terjadi, istirahat mu setelah hal yang tak inginkan terjadi, tapi apalah daya manusia hanya menjalankanapa yang sudah digariskan oleh Tuhan. Bab dimana kita tidak bisa menunda bahkan menolaknya.

Paragraf Kelima

Kehilangan, maaf aku harus mengungkap isi dalam otak ku. Point dimana titik awal sebuah tulisan, terhitung waktu mundur.

Mengembalikan sesuatu apa kita miliki namun sudah diambil "Sang Pencipta" adalah sesuatu yang mustahil, bukan? Namun kenangan masih menempel kuat didalam sanubari, kembali menguak isi didalam otak dengan sengaja menyimpan didalam tulisan ini. Seperti kehilangan pada umumnya, bersedih tak bertuan, raungan pilu tengah malam  bahkan  enggan mengingat kerinduan. Bagai tak bertepi tulisan ini, harus bagaimana mengungkapkan isi dalam otak ini, terlalu penuh dengan senyumanmu, keelokan mu, anggunmu wahai engkau perempuanku. Secuil cerita, rentang diantara waktu mungkin tak nampak begitu lama. Namun apa yang dirasa begitu hebat lamanya. Jujur diri ini tak pandai merangkum bait antar bait mendeskripsikan tentangmu. Diri ini memang kehilanganmu secara lahiriah namun tidak secara bathiniah. Kamu masih menetap didalam jiwa ini. Dirimu amat sangat berharga lebih dari sajak-sajak yang pernah terungkapkan. Namun, diri ini harus tetap melanjutkan hidup. Begitulah ucapan dari seorang sahabat yang dilontarkan kepadaku. Maaf jika bait ini tersingkat, bukan bermaksud apa. Diri ini sungguh tak kuasa melanjutkan kata antar kata. Mungkin dikemudian hari melanjutkan dengan cerita yang sama, namun keadaan berbeda.

Paragraf Keenam 

Sudah menjadi menjadi kewajiban anak kepada orangtua, setelah perantauan bertahun-tahun demi pendidikan dan cita-cita, engkau harus pulang ke kampung halaman untuk mengabdikan diri kepada orangtua serta lingkungan sekitar. Cerita lain yang didapat kepulangan mu membawa pilu dan riuh. [ TIME SKIP ]

Diantara pilu itu selalu ada do'a terbaik untukmu, sejak dulu kala, hingga waktu tak berbatas. 
"Tsumma Lahumul Fatihah"

Quote 

Puisi Kehilangan
Puisi Kehilangan
Puisi Kehilangan
Puisi Kehilangan
Puisi Kehilangan
Puisi Kehilangan

0 komentar

Klik Untuk Berkomentar !